FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BELAJAR DI KELAS
FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BELAJAR DI KELAS
A. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BELAJAR
Faktor- faktor yang mempengaruhi proses belajar
terdiri atas faktor internal dan eksternal.
Faktor internal adalah faktor-faktor yang
berasal dari dalam diri individu dan dapat mempengaruhi hasil belajar individu.
Faktor-faktor internal ini meliputi faktor fisiologis dan faktor psikologis.
Sedangkan faktor eksternal yang memengaruhi
balajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor lingkungan sosial
dan faktor lingkungan nonsosial.
Setiap
individu memang tidak ada yang sama. Perbedaan individual ini pulalah yang
menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar dikalangan anak didik. Kesulitan
belajar tidak selalu disebabkan faktor intelegensi yang rendah (kelainan mental),
akan tetapi dapat juga disebabkan faktor-faktor non intelegensi. Dengan
demikian, IQ tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar. (Ahmadi, Abu,
Widodo Supriyono, 2004)
Faktor-faktor
yang mempengaruhi belajar di antaranya, yaitu sebagai berikut:
1. Faktor Internal
a. Faktor Jasmani
1) Faktor kesehatan
Proses
belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, selain itu
juga ia akan cepat lelah, kurang bersemangat, ngantuk jika badannya lemah, dan
lain sebagainya.
2) Cacat tubuh
Cacat
tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai
tubuh/badan. Siswa yang cacat belajarnya juga terganggu, jika hal ini terjadi
hendaknya ia belajar pada lembaga pendidikan khusus atau diusahakan alat Bantu
agar dapat menghindari atau mengurangi pengaruh kecacatannya itu.
b. Faktor Psikologis
1) Intelegensi
Intelegensi
adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi
dan menyesuaikan ke dalam
situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui/menggunakan
konsep-konsep abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya
dengan cepat.
2) Perhatian
Perhatian menurut Gazali adalah keaktifan jiwa
yang dipertinggi, jiwa itu semata-mata tertuju kepada suatu objek
(benda/hal) atau sekumpulan objek. Untuk dapat menjamin hasil belajar yang
baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya,
jika bahan pelajaran tidak menjadi perhatian siswa, maka timbullah kebosanan,
sehingga ia tidak lagi suka belajar.
3)
Minat
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk
memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati
seseorang, akan diperhatikan terus menerus di sertai dengan rasa senang.
Apabila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa,
maka siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya
tarik baginya. (Slameto, 2010)
4)
Bakat
Bakat adalah potensi/kecakapan dasar yang dibawa
sejak lahir. Setiap individu mempunyai bakat yang berbeda-beda. Seseorang yang
mempunyai bakat musik mungkin di bidang lain ketinggalan, dan lain sebagainya.
Maka seorang murid akan mudah mempelajari yang sesuai dengan bakatnya.
Apabila seorang anak harus mempelajari bahan lain dari bakatnya, akan cepat
bosan. ( Ahmadi, Abu, Widodo Supriyono, 2004)
5)
Motivasi
Motivasi sebagai faktor inner (batin) berfungsi
menimbulkan, mendasari, mengarahkan perbuatan belajar. Motivasi dapat
menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan, sehingga semakin besar
motivasinya akan semakin besar kesuksesannya.
6)
Kematangan
Kematangan adalah suatu tingkat dalam
pertumbuhan seseorang, di mana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk
melaksanakan kecakapan baru. Belajar akan lebih berhasil jika anak sudah siap
atau matang. Jadi kemajuan baru untuk memiliki kecakapan itu tergantung dari
kematangan dan belajar.
7)
Kesiapan
Kesiapan adalah kesediaan untuk memberi respon
atau bereaksi. Kesiapan ini perlu diperhatikan dalam proses belajar, karena
jika siswa belajar dan padanya sudah ada kesiapan, maka hasil belajarnya akan
lebih baik.
2. Faktor Eksternal
a. Lingkungan sosial
1) Lingkungan sosial sekolah
Lingkungan
social sekolah seperti guru , administrasi, dan teman-teman sekelas dapat
memengaruhi proses belajar seorang siswa. Hubungan harmonis antra ketiganya
dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk belajar lebih baik disekolah.
2) Lingkungan sosial massyarakat.
Kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal siswa
akan memengaruhi belajar siswa. Lingkungan siswa yang kumuh, banyak
pengangguran dan anak terlantar juga dapat memengaruhi aktivitas belajarsiswa,
paling tidak siswa kesulitan ketika memerlukan teman belajar, diskusi, atau
meminjam alat-alat belajar yang kebetulan belum dimilkinya.
3)
Lingkungan
sosial keluarga.
Lingkungan ini sangat memengaruhi kegiatan belajar.
Ketegangan keluarga, sifat-sifat orangtua, demografi keluarga (letak rumah),
pengelolaankeluarga, semuannya dapat memberi dampak terhadap aktivitas belajar
siswa. Hubungan anatara anggota keluarga, orangtua, anak, kakak, atau adik yang
harmonis akan membantu siswa melakukan aktivitas belajar dengan baik.
b. Lingkungan non sosial.
1) Lingkungan alamiah.
Lingkungan
alamiah seperti kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar
yang tidak terlalu silau/kuat, atau tidak terlalu lemah/gelap, suasana yang
sejuk dantenang. Lingkungan alamiah tersebut mmerupakan factor-faktor yang
dapat memengaruhi aktivitas belajar siswa. Sebaliknya, bila kondisi lingkungan
alam tidak mendukung, proses belajar siswa akan terlambat.
2) Faktor instrumental
Faktor
instrumental yaitu perangkat belajar yang dapat digolongkan dua macam. Pertama,
hardware, seperti gedung sekolah, alat-alat belajar,fasilitas belajar, lapangan
olah raga dan lain sebagainya. Kedua, software, seperti kurikulum sekolah,
peraturan-peraturan sekolah, bukupanduan, silabi dan lain sebagainya.
3) Faktor materi pelajaran (yang
diajarkan ke siswa).
Faktor
ini hendaknya disesuaikan dengan usia perkembangan siswa begitu juga
denganmetode mengajar guru, disesuaikandengan kondisi perkembangan siswa.
Karena itu, agar guru dapat memberikan kontribusi yang postif terhadap
aktivitas belajr siswa, maka guru harus menguasai materi pelajaran dan berbagai
metode mengajar yang dapat diterapkan sesuai dengan konsdisi siswa.
B. MENGATUR KONDISI KELAS DAN IKLIM
BELAJAR SISWA
Pengaturan lingkungan belajar sangat diperlukan agar
anak mampu melakukan kontrol terhadap pemenuhan kebutuhan emosionalnya.
Lingkungan belajar yang memberi kebebasan kepada anak untuk melakukan
pilihan-pilihan akan mendorong anak untuk terlibat secara fisik, emosional, dan
mental dalam proses belajar, dan karena itu, akan dapat memunculkan
kegiatan-kegiatan yang kreatif-produktif. ltulah sebabnya, mengapa setiap anak
perlu diberi kebebasan untuk melakukan pilihan-pilihan sesuai dengan apa yang
mampu dan mau dilakukannya.
Pengelolaan kelas yang baik, dapat dilakukan dengan
6 cara, yaitu sebagai berikut :
1.
Penciptaan lingkungan fisik kelas yang
kondusif
2.
Penataan ruang belajar sebagai sentra
belajar
3.
Penciptaan atmosfir belajar yang
kondusif
4.
Penetapan strategi pembelajaran dan
5.
Pemanfaatan media dan sumber belajar
6.
Penilaian hasil belajar.
Lingkungan fisik di kelas meliputi pengaturan ruang
belajar yang didesain sedemikian rupa sehingga tercipta kondisi kelas yang
menyenagkan dan dapat menumbuhkan semangat dan keinginan untuk belajar dengan
baik seperti: pengaturan meja, kursi, lemari, gambar-gambar afirmasi, pajangan
hasil karya siswa yang berprestasi, alat-alat peraga, media pembelajaran dan
jika perlu di iringi dengan nuansa musik yang sesuai dengan materi pelajaran
yang diajarkan atau nuansa musik yang dapat membangun gairah belajar siswa.
Design ruang kelas yang baik dimaksudkan untuk
menanamkan, menumbuhkan, dan memperkuat rasa keberagamaan dan perilaku-perilaku
spritual siswa. Dengan ruang kelas yang baik, para siswa dapat berkomunikasi
secara bebas, saling menghormati dan menghargai pendapat masing-masing.
Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan oleh
guru dalam menata lingkungan fisik kelas menurut Loisell ( Winataputra, 2003: 22
) yaitu:
1.
Visibility
(KeleluasaanPandangan)
Visibility artinya penempatan dan penataan
barang-barang di dalam kelas tidak mengganggu pandangan siswa, sehingga siswa
secara leluasa dapat memandang guru, benda atau kegiatan yang sedang
berlangsung. Begitu pula guru harus dapat memandang semua siswa kegiatan
pembelajaran.
2.
Accesibility
(mudah dicapai)
Penataan ruang harus dapat memudahkan siswa untuk
meraih atau mengambil barang-barang yang dibutuhkan selama proses pembelajaran.
Selain itu jarak antar tempat duduk harus cukup untuk dilalui oleh siswa
sehingga siswa dapat bergerak dengan mudah dan tidak mengganggu siswa lain yang
sedang bekerja.
3.
Fleksibilitas
(Keluwesan)
Barang-barang di dalam kelas hendaknya mudah ditata
dan dipindahkan yang disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran. Seperti penataan
tempat duduk yang perlu dirubah jika proses pembelajaran menggunakan metode
diskusi, dan kerja kelompok.
4.
Kenyamanan
Kenyamanan disini berkenaan dengan temperatur
ruangan, cahaya, suara, dan kepadatan kelas.
5.
Keindahan
Prinsip keindahan ini berkenaan dengan usaha guru
menata ruang kelas yang menyenangkan dan kondusif bagi kegiatan belajar.
Ruangan kelas yang indah dan menyenangkan dapat berengaruh positif pada sikap
dan tingkah laku siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan.
Penyusunan dan pengaturan ruang belajar hendaknya
memungkinkan anak duduk bekelompok dan memudahkan guru bergerak secara leluasa
untuk membantu dan memantau tingkah laku siswa dalam belajar. Dalam pengaturan
ruang belajar, hal-hal berikut perlu diperhatikan yaitu:
1.
Ukuran bentuk kelas
2.
Bentuk serta ukuran bangku dan meja
3.
Jumlah siswa dalam kelas
4.
Jumlah siswa dalam setiap kelompok
5.
Jumlah kelompok dalam kelas
6.
Komposisi siswa dalam kelompok (seperti
siswa yang pandai dan kurang pandai, pria dan wanita).
Tempat duduk merupakan fasilitas atau barang yang
diperlukan oleh siswa dalam proses pembelajaran terutama dalam proses belajar
di kelas di sekolah formal.tempat duduk dapat mempengaruhi proses pembelajaran
siswa, bila tempat duduknya bagus, tidak terlalu rendah, tidak terlalu besar,
bundar, persegi empat panjang, sesuai dengan keadaan tubuh siswa. Maka siswa
akan merasa nyaman dan dapat belajar dengan tenang.
Hal yang tidak boleh kita lupakan bahwa dalam
penataan tempat duduk siswa tersebut guru tidak hanya menyesuaikan dengan
metode pembelajaran yang digunakan saja. Tetapi seorang guru perlu
mempertimbangkan karakteristik individu siswa, baik dilihat dari aspek
kecerdasan, psikologis, dan biologis siswa itu sendiri. Hal ini penting karena
guru perlu menyusun atau menata tempat duduk yang dapat memberikan suasana yang
nyaman bagi para siswa
1.
Pengaturan
meja-kursi
Susunan meja-kursi hendaknya memungkinkan
siswa-siswa dapat saling berinteraksi dan memberi keluasaan untuk terjadinya
mobilitas pergerakan untuk melakukan aktivitas belajar. Meja-kursi juga
hendaknya dapat digerakkan, dipindahkan, dan disusun secara fleksibel. Beri
keleluasaan siswa mengatur sendiri atau memilih meja-kursinya masing-masing.
2.
Pemajangan
gambar dan warna
Pemajangan gambar dan pemilihan warna perlu
mempertimbangkan saran-saran berikut.
a.
Siswa perlu dilibatkan dalam pengadaan
dan penataan pajangan-pajangan yang dibutuhkan dalam kelas. Siswa, misalnya,
dapat diminta membuat gambar, poster, motto, puisi.
b.
Guna menghindari kejenuhan terhadap
gambar dan isi poster afirmasi yang sama, guru perlu secara priodik mengganti
gambar-gambar atau poster-poster tersebut.
c.
Guna mengoptimalkan penataan ruang, maka
hasil-hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas.
karya-karya terpilih siswa yang dipajang dapat berfungsi sebagai reward dan
praise yang dapat memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan
inspirasi bagi siswa lain.
3. Ventilasi dan pengaturan cahaya
Suhu, ventilasi dan penerangan (kendati pun guru
sulit mengatur karena sudah ada) adalah aset penting untuk terciptamya suasana
belajar yang nyaman. Oleh karena itu, ventilasi harus cukup menjamin kesehatan
siswa.
4.
Pengaturan
penyimpanan barang-barang
Barang-barang hendaknya disimpan pada tempat khusus
yang mudah dicapai kalau segera diperlukan dan akan dipergunakan bagi
kepentingan belajar. Barang-barang yang karena nilai praktisnya tinggi dan
dapat disimpan di ruang kelas seperti buku pelajaran, pedoman kurikulum, kartu
pribadi dan sebagainya, hendaknya ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak
mengganggu gerak kegiatan siswa.
C. KONDISI YANG MEMPENGARUHI IKLIM
BELAJAR
Lingkungan sistem pembelajaran meliputi berbagai hal
yang dapat memperlancar proses belajar mengajar dikelas seperti: Kompetensi dan
kreativitas guru dalam mengembangkan materi pembelajaran, penggunaan metode dan
strategi belajar yang bervariasi, pengaturan waktu dalam proses belajar
mengajar dan pengunaan media dan sumber pembelajaran yang sesuai dengan tujuan
pembelajaran serta penentuan evaluasi untuk mengukur hasil belajar siswa.
Keselurahan aspek yang dijelaskan di atas didesain
sedemikian rupa dalam proses pembelajaran. Yang menjadi penekanan dalam
penciptaan atmosfir belajar yang kondusif adalah penciptaan suasana
pembelajaran yaitu sebagai berikut :
1.
Menyenangkan
dan mengasyikkan
Menyenangkan dan mengasyikkan terkait dengan aspek
afektif perasaan. Guru harus berani mengubah iklim dari suka ke bisa. Guru
hendaknya dapat mengundang dan mencelupkan siswa pada suatu kondisi
pembelajaran yang disukai dan menantang siswa untuk berkreasi secara aktif.
Rancangan pembelajaran terpadu dengan materi
pembelajaran yang kontekstual harus dikembangkan secara terus menerus dengan
baik oleh guru. Untuk keperluan itu guru-guru dilatih:
a.
Bersikap ramah
b.
Membiasakan diri selalu tersenyum
c.
Berkomunikasi dengan santun dan patut
d.
Adil terhadap semua siswa
e.
Senantiasa sabar menghadapi berbagai
ulah dan perilaku siswanya.
f.
Menciptakan kegiatan belajar yang
kreatif melalui tema-tema yang menarik yang dekat dengan kehidupan siswa.
2.
Mencerdaskan
dan menguatkan
Mencerdaskan bukan hanya terkait dengan aspek
kognitif, melainkan juga dengan kecerdasan majemuk (multiple intelligence).
Tidak kalah pentingnya adalah bagaimana guru dapat mengalirkan pendidikan
normatif ke dalam mata pelajaran sehingga menjadi adaptif dalam keseharian
anak. Inilah yang merupakan tujuan utama dari fundamen pendidikan kecakapan
hidup (life skill). Oleh karena itu, guru dilatih:
a.
Memilih tema-tema yang dapat mengajak
anak bukan hanya sekedar berpikir, melainkan juga dapat merasa dan bertindak
untuk menyelesaikan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
b.
Teknik-teknik penciptaan suasana yang
menyenangkan dalam pembelajaran, karena jika anak senang dan asyik, tentu saja
bukan hanya kecerdasan yang diperoleh, melainkan juga mekarnya “kepribadian
anak” yang menguatkan mereka sebagai pembelajar.
c.
Memberikan pemahaman yang cukup akan
pentingnya memberikan keleluasaan bagi siswa dalam proses pembelajaran.
d.
Jangan terlalu banyak aturan yang dibuat
oleh guru dan harus ditaati oleh anak akan menyebabkan anak-anak selalu
diliputi rasa takut dan sekaligus diselimuti rasa bersalah.
DAFTAR
RUJUKAN
Ahmadi, Abu, Widodo Supriyono.(2004).
Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka
Cipta.
Slameto. (2010). Belajar Dan Factor-Faktor Yang Mempengaruhi.
Jakarta: Rineka
Cipta.
Winarno Surakhmad. (1982). Pengantar Interaksi Mengajar
Dasar dan Tehnik
Metodologi
Pengajaran edisi IV. Bandung: Tarsito.
Jelaskan faktor positif yg dapat mempengaruhi siswa?
BalasHapusBermanfaat artikelnya kak
BalasHapusTerimakasih untuk ilmu yg di paparkan. Sangat2 bermanfaat dan berguna๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป
BalasHapusArtikel yang sangat bermanfaat,semoga bisa diterapkan oleh siswa, dan paham pentingnya disiplin
BalasHapusMaterinya bagus, dan bermanfaat bagi pendidik.
BalasHapusMaterinya sangat bagus, bermanfaat sekali bagi pendidik untuk peserta didiknya๐
BalasHapus